Sri Mulyani sebut dampak transformasi iklim sama dahsyat dengan COVID-19

Info seputar SGP Hari Ini 2020 – 2021.

Menetapkan target yang lebih ambisius. Kita terus melakukan harmoni kebijakan-kebijakan untuk mencapai kewajiban (Paris) tersebut atau makin lebih ambisius

JAKARTA (ANTARA) – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengucapkan dampak dari perubahan iklim atau climate change hendak sangat dahsyat, sama secara COVID-19, sehingga semua negara harus berkontribusi dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.

“Saat ini negeri dihadapkan pada ancaman yang katastropiknya, dampaknya, konsekuensinya yaitu climate change . Kita sudah melihat berbagai studi menunjukkan efek dari climate change itu akan sangat dahsyat, ” ujar Menkeu Sri Mulyani saat webinar Climate Change Challenge yang diselenggarakan Universitas Indonesia (UI), Jumat.

Menkeu Sri Mulyani mencontohkan dampak dari perubahan iklim yang telah terjadi di berbagai dunia seolah-olah mencairnya es di kutub utara dan selatan beserta perubahan iklim berupa kekeringan maupun hujan yang lanjut.

Bahkan bila merujuk pada laporan dengan digunakan sebagai referensi pada pertemuan climate change dunia, saat ini suhu dunia 1, 1 derajat celsius lebih hangat dibandingkan masa pra-industrialisasi.

Baca juga: Pemimpin COP2: Perubahan iklim hendak dirasakan semua pihak

Berdasarkan kajian tersebut, lanjut Sri Mulyani, meskipun semua negeri melaksanakan Nationally Determined Contribution (NDC) dalam Paris Agreement untuk menurunkan emisi karbon, dunia tidak akan selamat dari kenaikan suhu.

“Dunia akan tentu meningkat suhunya menjadi 3, 2 derajat celsius dipadankan pra-industri pada 2030. Itu berarti akan melewati batas yang oleh para mahir disebutkan kenaikan suhu maksimal yang bisa ditahan bumi yaitu 1, 5 maka 2 derajat celsius, ” jelas Sri Mulyani.

Berkaca dari pandemi COVID-19 di mana negara maju sekalipun tidak siap menghadapinya, Sri Mulyani menekankan pentingnya kontribusi dan kontrak seluruh negara untuk menyandarkan emisi karbon.

“Perlu target yang lebih ambisius. Kita terus menyelenggarakan keselarasan kebijakan-kebijakan untuk mencapai komitmen (Paris) tersebut ataupun bahkan lebih ambisius, ” ujarnya.

Baca juga: Kepala COP26: Sepuluh tahun ke depan menentukan nasib bumi

Sri Mulyani menyampaikan Nusantara sebagai negara yang besar diminta untuk berperan aktif di dunia internasional di dalam meminta komitmen negara-negara tetangga dan negara-negara maju pada memenuhi konsekuensi sumber gaya yang dibutuhkan untuk melayani transformasi dari high carbon menjadi low carbon ataupun bahkan zero carbon emission .

Ia menyebutkan kaum sektor memiliki peranan penting seperti Kementerian Lingkungan Tumbuh dan Kehutanan (KLHK) melalui deforestasi yang telah membuahkan hasil positif dengan memperoleh dana kompensasi dari kemerosotan CO 2 dari deforestasi, termasuk juga pekerjaan rumah pada bidang energi terbarukan dengan target bauran Energi Hangat Terbarukan (EBT) mencapai 23 persen pada 2025.

Adapun isu lingkungan hidup termasuk di dalamnya mengenai penurunan emisi karbon dan komitmen Perjanjian Paris merupakan agenda prioritas bagian enam dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Baca juga: Menteri LHK sebut pengurangan emisi dilakukan dengan langkah realistis

Baca juga: Presiden COP26: Sepuluh tahun ke ajaran menentukan nasib bumi

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021