Sri Mulyani: Kerugian dunia akibat COVID capai 15 triliun dolar GANDAR

Sri Mulyani: Kerugian dunia akibat COVID capai 15 triliun dolar GANDAR

Hal ini setara sembilan sampai 15 kali ukuran ekonomi Indonesia. Suatu dampak begitu bingung dalam waktu kurang dari enam bulan

Jakarta (ANTARA) awut-awutan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebutkan kerugian yang dialami seluruh negara di dunia kelanjutan harus menanggulangi dampak pandemi COVID-19 selama enam bulan ini sudah mencapai sekitar 9 triliun dolar AS hingga 15 triliun dolar AS.

“Hal ini sebanding sembilan sampai 15 kali ukuran ekonomi Indonesia. Suatu dampak sejenis dahsyat dalam waktu kurang dibanding enam bulan, ” kata Sri Mulyani dalam Sidang Mahkamah Konstitusi terkait Pengujian UU 2/2020 mengenai Penetapan Perppu 1/2020 di Jakarta, Kamis.

Sri Mulyani menyatakan kerugian tersebut sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi dunia dengan diprediksi akan mengalami kontraksi sangat dalam pada tahun ini yakni di kisaran 3-5 persen.

“Semula pada 2020 ekonomi dunia diperkirakan tumbuh 3, 4 persen sekarang berubah jadi pengurangan 3 persen sampai 5 komisi, ” ujar Sri Mulyani.

Baca juga: Ketua IMF ingatkan “pendakian panjang” menuju pemulihan ekonomi global

Sementara tersebut ia menuturkan kepanikan global kelanjutan pandemi COVID-19 tersebut berimplikasi di Indonesia seperti keluarnya arus modal asing atau capital outflow di pasar saham yang mencapai Rp140 triliun.

Tak hanya tersebut Sri Mulyani mengungkapkan kepanikan negeri juga telah menyebabkan gejolak serta jatuhnya IHSG, pasar Surat Bernilai Negara (SBN), serta pasar valuta asing (valas) di dalam jati.

Ia melanjutkan situasi itu turut merosotkan kegiatan ekonomi dan memunculkan ancaman luar umum bagi keselamatan maupun kesejahteraan pribadi yang tercermin dari meningkatnya total pengangguran dan kemiskinan.

Baca juga: Bank Dunia: Pandemi pukul ekonomi Asia Timur, picu kemiskinan baru

“Ancaman jumlah pengangguran dan kemiskinan di semua negara meningkat tajam dalam waktu singkat, ” ujar Sri Mulyani.

Tak berhenti pada situ, stabilitas sosial, ekonomi, & sistem keuangan juga terancam kelanjutan adanya kebangkrutan dunia usaha pada semua sektor mulai dari pemindahan, perhotelan, restoran, manufaktur, perdagangan, tenggat konstruksi.

“Berbagai jalan mengatasi COVID-19 dengan upaya penemuan vaksin masih dalam proses perluasan dan butuh waktu dan anju yang rumit untuk penerapannya, ” tambah Sri Mulyani.

Baca juga: Ekonom: Perlu upaya keras kembalikan ekonomi ke lima persen

“Aktivitas ekspor, impor dan perdagangan antarnegara merosot, ” ujarnya.

Meski begitu, Sri Mulyani menyatakan saat tersebut seluruh dunia sedang berusaha mengatasi krisis dengan menemukan vaksin COVID-19 yang memerlukan proses dan anju waktu cukup lama serta rumit.

“Kombinasi itu sebabkan ketidakpastian di perekonomian dan zona keuangan menjadi sangat tinggi, sementara tingkat prediktabilitas COVID-19 baik lantaran sisi dampak maupun waktu penyelesaiannya masih sangat rendah, ” sekapur Sri Mulyani.

Baca juga: Indonesia masuki zona resesi, apa arti resesi dan dampaknya?

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020