PMI manufaktur ekspansif, Menperin catatan pelaku industri

Info seputar HK Prize 2020 – 2021.

Kami sangat memberikan pujian kepada pelaku industri pada Indonesia yang masih tetap berjuang dalam menjalankan usahanya di tengah tekanan pandemi saat ini

Jakarta (ANTARA) – Industri manufaktur di tanah air masih menunjukkan geliat yang pasti di tengah gempuran efek pandemi COVID-19 yang tercermin dari capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan Februari dengan menempati posisi 50, 9, yang menandakan bahwa industri manufaktur berada dalam tangga ekspansif, yakni di tempat 50, sesuai yang dirilis oleh IHS Markit.

Untukitu Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengapresiasi karakter industri, karena mampu bertahan di tengah gempuran angin besar pandemi.

“Kami masih bersyukur PMI Februari tetap berada di lapisan ekspansif. Kami sangat menyerahkan apresiasi kepada pelaku industri di Indonesia yang masih terus berjuang dalam menjalankan usahanya di tengah lagu pandemi saat ini, ” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita lewat bukti resmi di Jakarta, Senin.

​Menperin optimistis, dengan berbagai kebijakan & stimulus yang telah diluncurkan pemerintah dalam upaya membangkitkan kembali gairah pelaku jalan dan pemulihan ekonomi nasional, PMI Manufaktur Indonesia bahan terus tembus di golongan ekspansif.

“PMI Manufaktur Indonesia selama enam bulan ini sudah berendeng di level ekspansif. Kami akan terus pertahankan & tingkatkan, ” ungkapnya.

Apalagi, pemerintah anyar saja memberikan insentif fiskal berupa penurunan tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) untuk kendaraan bermotor.

“Kebijakan ini tetap akan meningkatkan confidence pada pelaku industri dan memajukan daya beli masyarakat. Awak yakin PMI bulan berikutnya bisa meningkat, mudah-mudahan mampu di atas indeks 51, ” papar Agus.

Merujuk hasil inspeksi IHS Markit, output serta permintaan baru terus meningkat dan aspek pekerjaan mendatangi stabil. Di samping itu, perusahaan masih sangat optimis bahwa output akan naik selama 12 bulan mendatang.

Catatan meyakinkan lainnya, yakni produksi menyusun selama empat bulan berturut-turut dan perusahaan terus memajukan output sesuai dengan pertumbuhan permintaan baru yang berkelanjutan.

Bahkan, permintaan baru meningkat tajam dalam bulan Februari atau setidaknya dalam tiga bulan final.

Peningkatan output dan permintaan baru dengan berkelanjutan saat ini mendorong perusahaan untuk meningkatkan kesibukan pembelian dan membatasi penetapan hubungan kerja (PHK). Namun demikian, beberapa perusahaan mendokumentasikan gangguan yang disebabkan sebab pandemi Covid-19.

Menanggapi hasil PMI Manufaktur Indonesia pada bulan Februari, Direktur Ekonomi IHS Markit Andrew Harker mengatakan, jumlah kasus COVID-19 yang menyusun saat ini menunjukkan kalau pandemi terus mengganggu operasional.

“Namun demikian, sektor manufaktur masih nisbi tangguh pada bulan Februari, ” tuturnya.

Sementara itu, aktivitas pekerjaan terus bergerak mendekati stabil.

“Meskipun adanya gangguan yang disebabkan sebab pandemi, optimisme perusahaan terpaut perkiraan tahun depan sedang tidak berkurang di tengah harapan bahwa pandemi hendak segera berakhir, ” tandasnya.

Baca juga: Menperin bersyukur PMI Manufaktur Indonesia sedang di Level ekspansif
Baca juga: Menperin mau kenaikan PMI manufaktur RI dongkrak pemulihan ekonomi
Baca juga: Menperin pujian pelaku industri, PMI Manufaktur Indonesia naik lagi

 

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021