Pilihan melejitkan UMKM lewat lantai bursa

Info seputar HK Prize 2020 – 2021.

Bukan hal yang umum, sektor UMKM melantai di pura saham, namun bukan situasi yang tidak mungkin….

Jakarta (ANTARA) – Dunia bisnis terus berkembang, macam usaha makin beragam, pada saat yang sama harus berpendidikan memilah jaringan. Salah mulia sektor penggerak utama ekonomi Indonesia lewat jalur riil adalah usaha mikro mungil dan  menengah (UMKM).

Layaknya perdagangan klasik, UMKM lazim mempertemukan langsung kurun penjual dengan pembeli, walaupun beberapa jenis UMKM juga sebagai distributor dan daerah jasa.

Dalam pertarungan ekonomi global modern, cara-cara kolaborasi kerap ditempuh sebagai jalur tengah pada antara kebuntuan. Hal dengan dimaksud adalah masuknya usaha UMKM ke dalam dunia “pasar modal” melalui penawaran saham perdana atau IPO.

Bukan peristiwa yang umum, sektor UMKM melantai di bursa bagian, namun bukan hal yang tidak mungkin. Apalagi di tengah gempuran serangan pandemi COVID-19, disinyalir gairah pasar modal tidak pernah lembam peminat.

“Salah satu bisnis yang telah sesuai dengan protokol COVID-19 adalah pasar modal, kok? Karena antara pembeli dan penjual tidak pernah bersemuka secara langsung dan tidak menggunakan uang fisik, ” kata CEO VierCorp, Vier Abdul Jamal.

Vier yang juga sebagai konsultan saham menjelaskan bahwa semua bidang bisnis mampu melantai di bursa bagian asalkan mampu memenuhi kondisi yang diminta.

Membuktikan hal tersebut, zaman ini Vier tengah menggodok dan memoles salah satu UMKM produsen es krim skala kecil untuk meningkatkan modalnya melalui pasar saham. “Kita akan lihat satu tahun ke depan nilai perusahaan tersebut menjadi berapa, ” kata Vier.

Baca serupa: BEI nilai IPO GoTo akan berdampak positif terhadap pasar modal

Beberapa sarana yang diajukan serta dikemukakan Vier bagi UMKM dengan ingin IPO adalah di antaranya paling tidak mempunyai modal dan aset  minimal senilai Rp5 miliar. Ke-2, bisnis tersebut sudah sustainable atau bergerak setidaknya 12 bulan atau satu tarikh.

Selain itu, perencanaan dan bisnis plan harus jelas, dan dengan utama adalah tidak tersedia lagi rahasia mengenai pengelolaan dana, sebab sudah harus diberitahukan kepada publik.

Ia menjelaskan sisanya adalah persyaratan administrasi saja dan struktural dalam suatu perusahaan. Meskipun terlihat sederhana syaratnya, namun secara legalitas perusahaan harus kuat terlebih dulu, meskipun UMKM.

Ia mengatakan banyak diantara kita menemui kegagalan dalam melantai di bursa rata-rata karena kurangnya pengetahuan dari pemilik usaha sendiri mengenai bagian dan juga tidak ada  mentor atau pakar yang memberikan arahan.

“Terjun ke dunia pasar modal, berarti harus jadi menjual ‘masa depan’, ” tegas Vier. Masa depan yang ia maksud ialah perencanaan bisnis jangka panjang, agar orang-orang mau menancapkan sahamnya.

Baca juga: Bank Mandiri gandeng pelaku fintech, dorong adopsi digital UMKM

Lunasi Utang Negara

Hal lain dengan dapat digali dari rekan modal adalah    daya untuk dapat melunasi utang negara.

Vier Abdul Jamal mengatakan pasar modal dapat disinergikan buat meringankan beban utang sungguh negeri, yang jumlahnya bola lampu akhir April 2019 buat utang pemerintah dan bank sentral sebesar 189, tujuh miliar dolar AS, beserta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar 199, 6 miliar dolar AS.

“Solusi melunasi utang negara dan swasta dengan memakai struktur pasar modal mampu mempersingkat waktu penyelesaian utang. Bahkan, ke depan bisa menjadi sumber pendanaan bagi pemerintah atau swasta, ” ujar Vier Abdul Keindahan.

Ia mengutarakan kekuatan pasar modal Nusantara yang memiliki transaksi harian berkisar Rp 8-10 triliun, tak bisa mengabaikan andil BUMN yang sudah berdiam sejak lama di Pasar uang Efek Indonesia (BEI).

Sebut saja misalnya, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Sendiri (Perseo) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Keempatnya pada 2017 masuk pada 10 emiten dengan kapitalisasi terbesar pada 2017 secara torehan Rp1. 443 triliun per 29 Desember 2017.

Kapitalisasi emiten BUMN terus merangkak naik dari tahun ke tarikh, jika pada 2014 sebesar Rp 1. 339 triliun, melonjak menjadi Rp satu. 839 triliun per 29 Desember 2017.

Baca serupa: Presiden Jokowi: Tempatkan keluaran UMKM di etalase terdepan mall

Bila BUMN dengan telah melantai di BEI melakukan aksi korporasi dalam penerbitan saham baru Right Issue atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dengan leverage 10 kali dan rasio 1: 99 maka puluhan, bahkan ratusan triliun lembar saham bisa dicetak dari proses itu. Dengan asumsi masing – masing BUMN yang listing di Bursa Efek Indonesia menerbitkan 250 triliun bagian baru, maka dengan cuma empat perusahaan BUMN dengan tercatat saja sudah bisa menerbitkan 1. 000 triliun saham.

“Lalu, jika harga per eksemplar sahamnya naik menjadi besar kali lipat, dapat diperkirakan mencetak 2. 000 triliun, ” papar Vier Abdul Jamal.

Hasil aksi korporasi yang menghasilkan 2. 000 triliun bagian baru tersebut, tambahnya, bisa dicairkan dengan menjualnya ke pasar untuk diserap investor ritel maupun institusi, negara dapat mengantongi minimal kekayaan tunai Rp2. 000 triliun.

Struktur yang lain, jelas Vier Abdul  Keindahan, adalah saham baru hasil Right Issue/HMETD tersebut dapat dijadikan sebagai Asset Back Securities dalam menerbitkan National Bond yang dapat dijual murah, misalnya Rp50. 000/unit.

Untuk memuluskan strategi ini seluruh bank pemerintah dan swasta mampu menjadi agen penjualan ke investor ritel dan pranata. National Bond yang diterbitkan memberikan tenor waktu tertentu, misal tiga atau lima tahun dengan pilihan era maturity date si pembeli bond boleh memilih menebus bond tersebut kembali dengan uang tunai plus return yang telah dijanjikan diawal.

“Atau, dikonversi ke saham – bagian BUMN yang tercatat pada BEI dengan capital gain atau deviden dari masing – masing saham tersebut, ” katanya.

Baca juga: Menko Marves optimistis 30 juta UMKM “onboarding” di dalam 2023

National Bond pada atas dapat dikategorikan pantas dengan kebutuhan pemerintah. Misal, untuk infrastruktur pembangunan Bandara, pelabuhan, dan jalan tol, pemerintah bisa menerbitkan National Infrastructure Development Bond. Mengikuti lainnya, National Tourism Development Bond dan National Education Development Bond.

Sementara itu dari pihak pengusaha, Presiden Royallindo Expoduta Reza Abdullah mengatakan, di dalam menghadapi pandemi saat itu, para pebisnis harus memahami sistem hybrid dalam membentengi bisnis mereka.

Setidaknya harus mempersiapkan perut konsep, yaitu perdagangan konvensional dan juga konsep online/digital, dalam hal ini rancangan pasar modal bisa menjelma pilihan kedua setelah perdagangan konvensional.

“Pandemi ini serba tidak terkira, mungkin kalau kondisi tak semakin baik, bisa oleh karena itu konsep kedua yang mampu bertahan, jika konvensional tidak bisa berputar, ” katanya.

Reza sendiri memiliki usaha jasa Meetings, Incentives, Conference dan Exhibitions (MICE). Ia juga kerap bertemu dan mengawali cara dari skala UMKM, & bilamana ini harus siapkan banyak terobosan dan loncatan untuk lebih dari sekadar bertahan melalui pandemi.

Podcast Friday Talk

Podcast Friday Talk: UMKM Melantai pada Bursa

Oleh Afut Syafril Nursyirwan9
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021