Patra anjlok sekitar tiga tip, terseret krisis COVID-19 India

Promo menarik pada undian Data Sidney 2020 – 2021.

Harga patra mentah terus menurun masa para investor menekan bincul jeda bersama siklus perniagaan komoditas-komoditas supe.

New York (ANTARA) – Nilai minyak anjlok sekitar komisi pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), kala krisis virus corona India semakin dalam dan jaringan pipa bahan bakar pati AS kembali beroperasi, meniadakan reli yang telah menetapkan minyak mentah ke kelas tertinggi delapan minggu setelah perkiraan rebound untuk permintaan global tahun ini.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli, terpangkas 2, 27 dolar AS atau 3, 3 upah menjadi ditutup pada 67, 05 dolar AS bola lampu barel, setelah naik satu, 0 persen pada Rabu (12/5/2021).

Patra mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk transmisi Juni, jatuh 2, 26 dolar AS atau 3, 4 persen menjadi bermukim di 63, 82 dolar AS per barel, sesudah naik 1, 2 komisi di sesi sebelumnya.

Kedua harga pola tersebut menandai penurunan harian terbesar mereka dalam peristiwa persentase sejak awal April.

Baca juga: Minyak naik terangkat kekhawatiran kekurangan tujuan bakar di AS

Harga juga berada di lembah tekanan karena lonjakan harga-harga komoditas yang lebih umum, kekurangan tenaga kerja dan data harga konsumen yang jauh lebih kuat daripada perkiraan minggu ini telah memicu kekhawatiran inflasi yang dapat memaksa Federal Total AS menaikkan suku kembang.

Kenaikan suku bunga biasanya meningkatkan dolar AS, yang pada gilirannya menekan harga minyak karena membuat minyak mentah lebih mahal bagi pemegang sembrono uang lainnya.

“Harga minyak mentah langsung menurun ketika para investor menekan tombol jeda berhubungan siklus perdagangan komoditas-komoditas super, ” kata Edward Moya, analis pasar senior dalam OANDA.

“Ketakutan inflasi telah membuat berat beberapa investor untuk mengambil untung dari perdagangan energi mereka. ”

Baca pula: India catat 4. 000 kematian akibar COVID-19 dalam dua hari

Presiden AS Joe Biden mengatakan pengendara dapat mengharapkan stasiun pengisian bahan bakar mulai balik normal akhir pekan ini, bahkan ketika kekurangan mencengkeram beberapa daerah di pusat pengoperasian kembali jaringan saluran bahan bakar utama negara itu setelah ditutup sebab serangan ransomware .

Penyudahan Colonial Pipeline selama hampir seminggu, yang membawa 100 juta galon bahan bakar per hari, menyebabkan cela bensin dan pernyataan perlu dari Virginia hingga Florida, menyebabkan dua kilang mendiamkan produksi, dan mendorong kongsi penerbangan untuk merombak operasi pengisian bahan bakar.

Dalam sinyal penurunan lainnya untuk permintaan minyak, varian virus corona sudah melanda India, importir minyak mentah terbesar ketiga pada dunia.

Baca juga: SKK Migas: Kejar produksi 1 juta barel butuh investasi besar

Para profesional medis belum dapat mengatakan pustaka infeksi baru akan memuncak dan negara-negara lain kacau atas penularan varian dengan sekarang menyebar ke segenap dunia.

“Kekhawatiran berkembang bahwa penyebaran virus corona yang tidak terarah di India dan di Asia Tenggara akan mengurangi permintaan minyak, ” kata analis PVM dalam sebuah catatan.

“Dampaknya, bagaimanapun, diperkirakan relatif kecil dan paruh kedua tarikh ini akan melihat kebangkitan yang sehat dari kemajuan permintaan minyak. ”
 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021