Menimbulkan gairah bagi petani muda di Nusantara

Dapatkan promo member baru Pengeluaran SGP 2020 – 2021.

Jakarta (ANTARA) – Pemimpin pertama Amerika Serikat, George Washington, pernah menyatakan kalau petani adalah pekerjaan yang paling sehat, paling berguna, serta paling mulia bagi manusia.

Petani, sebagai salah satu profesi tertua di sepanjang sejarah pengikut manusia, telah membuat contoh hidup masyarakat berubah, lantaran nomaden menjadi menetap buat merawat lahan sawah atau kebun mereka.

Tidak heran bila Revolusi Agraria, yang pertama kala terjadi pada sekitar tarikh 10. 000 SM di daerah Timur Tengah & terus meluas ke berbagai penjuru dunia, adalah sejenis pencapaian akbar bagi kalangan Bani Adam.

Namun sayangnya, di bervariasi negara seperti Indonesia, menjelma permasalahan yaitu semakin menuanya rata-rata usia petani, karena generasi muda lebih menaksir profesi sektor manufaktur ataupun jasa.

Baca juga: DPR: Generasi milenial jangan noda jadi petani

Bahkan anggota Komisi IV DPR RI Slamet pernah menyatakan bahwa ancaman pangan terbesar yang dihadapi di Tanah Minuman adalah persoalan terkait regenerasi petani.

Lengah satu alasan yang sering terlontar adalah bahwa petani dinilai bukanlah profesi dengan menjanjikan, sehingga isu ketenteraman petani dinilai harus menjelma fokus pemerintah.

Logikanya, bila mulai banyak petani yang sejahtera di bermacam-macam daerah, maka hal itu akan menarik mulai banyak bujang muda untuk menjadi petani.

Koordinator LSM Koalisi Rakyat untuk Keistimewaan Pangan (KRKP) Said Abdullah juga menyatakan bahwa kalangan anak muda adalah solusi untuk mewujudkan sistem pangan yang berdaulat di Indonesia, sehingga anak-anak muda harus lebih dilibatkan dalam sektor pertanian.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan jumlah petani menurun dan petani muda hanya 6 persen atau 2, 7 juta dari total petani di Tanah Air yang berjumlah 33, 4 juta.

Baca juga: LSM: Anak muda solusi sistem pangan Indonesia berdaulat

Namun, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University Luki Abdullah terpendam bahwa pandemi COVID-19 yang berlangsung sejak Maret 2020 di Indonesia membuat generasi milenial tertarik mengelola bisnis peternakan karena dianggap menguntungkan di tengah banyaknya periode luang.

Dengan waktu luang yang melimpah, membuat banyak anak muda mulai melirik ke usaha produktif seperti di zona pertanian, peternakan, dan perkebunan.

Senada, Besar Perwakilan International Fund for Food and Agriculture (IFAD) Indonesia Ivan Cossio Cortez menilai Indonesia memerlukan bertambah banyak petani milenial sebagai upaya untuk mengantisipasi ancaman krisis pangan terlebih pada tengah pandemi COVID-19.

Menurut Ivan Cossio Cortez, menjadi penting membuat pertanian melalui dukungan alterasi pedesaan yang inklusif.

Teknologi digital

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Setiawan mengingatkan bahwa langkah implementasi teknologi digital di dalam daerah pertanian Indonesia perlu dipercepat terutama dalam rangka menarik semakin banyak petani tingkatan muda.

Makin, Indra Setiawan mengingatkan bahwa sebanyak 85, 62 upah di antara kalangan pemuda merupakan pengguna internet serta berpeluang menjadi early adopter atau pengadopsi dini dari teknologi digital di sektor pertanian.

Patuh dia, sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang memiliki daya lenting mulia selama pandemi COVID-19.

Hal tersebut terindikasi antara lain dari petunjuk BPS yang menunjukkan adanya kenaikan jumlah tenaga kegiatan di sektor pertanian sebesar 2, 78 juta selama periode Agustus 2019 hingga Agustus 2020.

Sedangkan Survei Angkatan Kerja Nasional oleh BPS membuktikan sebanyak 20, 62 upah pemuda Indonesia bekerja dalam sektor pertanian pada Agustus 2020, naik dari era sebelumnya yang berjumlah 18, 43 persen.

Baca selalu: Peneliti: Percepat penerapan teknologi digital dalam sektor pertanian

Kehadiran teknologi digital pertanian dinilai dapat pula memper petani langsung dengan konsumen, yang dapat mempersingkat ikatan pasok, sehingga mengurangi ketergantungan petani terhadap tengkulak.

Selama ini masih ditemukan banyak petani yang lebih banyak menjual buatan pertanian dalam jumlah tumbuh ke tengkulak. Hal ini layak disorot karena menerbitkan petani antara lain tidak memiliki daya tawar dengan kuat untuk menentukan kehormatan produsen.

Dengan digitalisasi di mana petani semakin memiliki akses kepada informasi harga komoditas di pasaran yang akurat & transparan, maka peningkatan pengertian yang kuat terhadap dinamika harga komoditas pertanian dapat membantu petani untuk menentukan harga produsen secara lebih terukur.

Pada hal program pinjaman daripada pemerintah seperti Kredit Cara Rakyat (KUR) sebagai sumber pendanaan untuk aktivitas pertanian, dinilai masih belum mempunyai jumlah pinjaman yang penuh bagi petani.

Untuk itu, berbagai instansi seperti Kementerian Pertanian & kementerian lain yang relevan perlu segera menyusun proyek-proyek nasional mengenai pengenalan teknologi digital pertanian. Kementan mampu melakukan perluasan cakupan kerjasama dengan pihak swasta buat melakukan penetrasi di area lain.

Baca juga: Persen demografi perlu dioptimalkan buat regenerasi sektor pertanian

Literasi digital

Tantangan lainnya dengan juga harus untuk disorot adalah rendahnya literasi digital petani, di mana mayoritas petani Indonesia merupakan lulusan sekolah dasar yang rata-rata berumur lebih dari 45 tahun.

Sebesar pihak seperti Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia M Anwar Bashori menjelaskan bahwa pihaknya telah membuat sebesar piloting pengembangan pertanian pintar berbasis teknologi IoT ( internet of things ).

Salah satunya yakni perluasan Greenhouse Aquaponik untuk budi daya pertanian dan perikanan sebagai upaya untuk mengakui pemuda bertani.

Selain itu, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian gencar mengintegrasikan kegiatan ekonomi dan keuangan inklusif pada sektor pertanian khususnya bagi kalangan petani milenial guna mempercepat perbaikan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Beberapa program yang dikerjakan oleh sejumlah BUMN untuk meningkatkan inklusi keuangan dalam sektor pertanian seperti sinergi oleh PT Bank Sendiri Tbk, PT Telkom Indonesia Tbk, dan juga PT Pupuk Indonesia.

Baca selalu: Akademisi: Kembangkan teknologi pertanian, dongkrak regenerasi petani

Gajah Badan Usaha Milik Negeri Erick Thohir juga dalam sejumlah kesempatan telah memuji kolaborasi BUMN untuk mendirikan ketahanan pangan dan wirausaha petani.

Erick menekankan peningkatan kesejahteraan petani harus ditunjang dengan pendirian kegiatan bisnis petani dengan profesional.

Tengah itu, Anggota Komisi IV DPR RI Sutrisno mengingatkan bahwa pemerintah melalui Departemen Pertanian perlu betul-betul bersinergi dalam melakukan perluasan pendidikan dan pelatihan bagi kalangan petani di berbagai kawasan.

Ia menyarankan hal tersebut dapat dibenahi dengan memperbanyak dan memperluas pendidikan dan pelatihan kepada petani sehingga sumber daya manusia dalam bidang pertanian menjadi semakin baik.

Dengan semakin meleknya petani dalam proses teknologi digital, maka diharapkan ke depanya juga akan mendirikan semakin banyak anak muda yang bergairah dan berbondong-bondong menjadi petani.

Baca pula: Unimma rintis sekolah buat angkat derajat petani muda
 

Oleh M Razi Rahman
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021