Kemenperin tegaskan SNI masker kain berkelakuan sukarela

Kemenperin tegaskan SNI masker kain berkelakuan sukarela

Kami sampaikan kembali bahwa tujuan penetapan SNI itu adalah sebagai pedoman bagi pabrik dalam negeri untuk memproduksi kedok kain dengan spesifikasi atau patokan yang ada di dalam SNI 8914: 2020 tersebut,…

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) masker dari kain masih bersifat sukarela bagi produsen dalam negeri, yang ingin mendapatkan Sertifikasi Produk Penggunaan Tanda Penumpu Nasional Indonesia (SPPT SNI).

Penegasan itu disampaikan    karena belakangan muncul kekhawatiran, khususnya dalam kalangan pelaku industri kecil & menengah (IKM) terkait kewajiban sertifikasi (SNI) masker dari kain. Dengan demikian IKM tetap diperbolehkan menyusun masker dari kain, tetapi dianjurkan untuk berpedoman pada parameter SNI 8914: 2020 secara sukarela.

“Kami sampaikan kembali bahwa tujuan penetapan SNI ini ialah sebagai pedoman bagi industri di dalam negeri untuk memproduksi masker kain dengan spesifikasi atau parameter yang ada di dalam SNI 8914: 2020 tersebut, sehingga dapat menyekat penyebaran Covid-19 dengan lebih cara dan lebih aman digunakan umum, ” Kata Direktur Industri Kain, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Elis Masitoh di Jakarta, Rabu.

Membaca juga: Masyarakat diminta gunakan masker label SNI atau kain dua lapis

Ia mengatakan masker yang telah ada tetap dapat beredar, namun tidak diperkenankan mencantumkan tanda SNI sebelum mendapatkan sertifikat SPPT SNI dari Lembaga sertifikasi Produk (LSPro).

Dalam SNI 8914: 2020, masker dari kain diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu jenis A untuk penggunaan umum, tipe B untuk penggunaan filtrasi bakteri, dan tipe C untuk penggunaan filtrasi partikel.

Selain itu, masker tersebut juga setidaknya harus memiliki minimal dua selongsong kain yang terbuat dari kain tenun dan kain rajut sebab berbagai jenis serat tekstil. SNI 8914: 2020 tidak berlaku untuk masker yang dipergunakan untuk budak maupun masker yang terbuat dibanding kain nir-tenun (nonwoven).

Baca juga: Kemenperin perlu buat panduan bagi industri kecil produksi masker SNI

SNI 8914: 2020 menyebutkan bahwa masker sebab kain dapat digunakan dalam kegiatan di luar rumah, atau saat berada di ruangan tertutup sesuai kantor, pabrik, tempat perbelanjaan, maupun transportasi umum.

“Tanda SNI yang tercantum pada masker kain merupakan informasi kepada bangsa dan diharapkan memberikan rasa tenteram terhadap jaminan kualitas, spesifikasi, serta kemampuan produk dalam melindungi pemakainya, ‘ kata Elis.

Sebelum SNI 8914: 2020 ditetapkan, tidak ada pedoman atau parameter untuk pengujian SNI masker sebab kain, sehingga industri yang mau mengetahui kualitas produknya belum mampu mengujikan masker yang dihasilkan.

Baca selalu: Kemenperin rumuskan SNI masker kain untuk lindungi konsumen

SNI tersebut dirumuskan dalam waktu kurang dari lima bulan, mengingat kebutuhan masker dibanding kain meningkat pesat di zaman pandemi Covid-19.

Di dalam rangka pengurusan sertifikat SPPT SNI, ia menjelaskan saat ini terdapat beberapa LSPro, baik milik negeri maupun LSPro swasta yang padahal mengajukan permohonan penunjukan sebagai wadah uji kepada BSN.

“Kami sangat mengapresiasi minat umum terhadap SNI masker kain itu. Sebagai informasi, Balai Besar Tekstil (BBT) Bandung di bawah Kemenperin juga telah mengajukan proses penetapan tersebut. Bahkan saat perumusan SNI ini, sebagian besar pengujian kain dilakukan di laboratorium BBT Bandung, ” ujar Elis.

Ia juga mengatakan industri mampu berkonsultasi pengujian SNI produk kedok kain diperlukan untuk menghindari bunga biaya yang tidak diperlukan.

Pewarta: Risbiani Fardaniah
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020