Kemenko: Santri jadi prioritas dalam desain keuangan inklusif

Kemenko: Santri jadi prioritas dalam desain keuangan inklusif

Santriwan dan santriwati merupakan segmen prioritas gerombolan pemuda pada Strategi Nasional Keuangan Inklusif

Jakarta (ANTARA) porakporanda Pemerintah berupaya memperkuat literasi keuangan para santri, pemuda, dan siswi, agar kepemilikan dan penggunaan rekening meningkat untuk mendukung ketahanan sistem keuangan nasional.

“Santriwan serta santriwati merupakan segmen prioritas kelompok pemuda pada Strategi Nasional Keuangan Inklusif, ” kata Deputi Dunia Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir dalam webinar serangkaian Hari Santri Nasional di Jakarta, Jumat.

Iskandar menjelaskan pemerintah mempunyai Program One Pesantren One Product (OPOP) yang bertujuan menciptakan independensi umat melalui para santri, tempat tinggal pesantren, dan masyarakat sekitar.

“Dengan program ini, Tempat tinggal Pesantren diharapkan bisa makin memberikan dampak terhadap lingkungan sekitarnya, ” kata Iskandar selaku Ketua Sekretariat Dewan Nasional Keuangan Inklusif.

Baca serupa: Sri Mulyani: Pesantren berperan penting, strategis, dan unik

Untuk itu dalam Hari Santri Nasional dilaksanakan serangkaian acara antara lain penyaluran Nama Usaha Rakyat (KUR)/Kredit Masyarakat Ekonomi Sejahtera (Mesra), dan peresmian Pontrenmart.

Selain itu pembiayaan fintech eSyirkah untuk ekspor jalan santri, peluncuran iPesantren, pembukaan bon santri dan penyerahan kartu santri, peluncuran percontohan pembiayaan OPOP, mengikuti edukasi/literasi keuangan syariah pesantren.

Melalui program itu, negeri ingin memberdayakan masyarakat, khususnya yang belum tersentuh dengan pembiayaan. “Sehingga mereka bisa membuka usaha, bisa bekerja, untuk meningkatkan kesejahteraan, ” imbuhnya.

Iskandar memasukkan kelompok pemuda mempunyai potensi yang sangat besar, dengan santri/santriwati dengan tersebar di seluruh Indonesia sebanyak 18 juta orang.

Baca juga: OJK cari format edukasi literasi keuangan digital bagi millenial

Jika seluruhnya terinklusi keuangan, lanjut dia, maka bisa mendorong pencapaian target keuangan inklusif jangka panjang.

Berbicara tentang ekonomi yang inklusif, Iskandar menambahkan salah satu sumber daripada pengangguran adalah karena tidak adanya akses masyarakat kelompok bawah terhadap akses pekerjaan dan akses pembiayaan.

“Pembangunan itu harusnya inklusif untuk semua orang. Maka kita melakukan pelatihan keuangan inklusif ini, salah satunya adalah biar seluruh masyarakat Indonesia bisa mencari jalan, bisa mendapatkan pekerjaan, tanpa mengecualikan dari kelompok mana, ” imbuhnya.

Baca juga: Kemenperin konsisten bina santri berwirausaha

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020