Kejar target realisasi investasi di sedang pandemi

Kejar target realisasi investasi di sedang pandemi

Info seputar HK Prize 2020 – 2021.

sehingga arus pertalian pasok global mengalami perlambatan

Jakarta (ANTARA) – Pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada 2020 turut berimbas pada banyak kejadian, termasuk laju investasi ke Negeri.

Berdasarkan Rencana Pembangunan Masa Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024, pada tahun ini Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) punya tumpuan realisasi investasi sebesar Rp866, 1 triliun.

Namun, target tersebut nyatanya harus direvisi perut kali untuk disesuaikan dengan situasi pandemi COVID-19. Awalnya, BKPM memproduksi simulasi jika COVID-19 berakhir pada Mei 2020 maka target realisasi investasi dipatok Rp855, 6 triliun.

Sayangnya, target itu kembali dipangkas menjadi Rp817, dua triliun karena pandemi yang tidak menunjukkan tanda akan berakhir.

Dipangkasnya target realisasi investasi harus dimaklumi lantaran di tengah kondisi pandemi, investor tentu tak ingin mengambil risiko menanamkan pangkal tanpa ada kepastian. Terlebih, pandemi membuat banyak negara memberlakukan lockdown.

Dalam penelitian mengenai efek pandemi terhadap ekonomi, United Nations Conference on Trade and Development ( UNCTAD ) menyebut pandemi akan menekan aliran investasi asing langsung ( foreign direct investment / FDI ). UNCTAD bahkan memprediksi FDI global akan turun 30-40 persen tahun ini.

Dengan tren tersebut, wajar jika kemudian Presiden Jokowi meminta menteri terkait, yakni Gajah Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dan Besar BKPM Bahlil Lahadalia untuk lestari menjaga pertumbuhan realisasi investasi dalam Indonesia.

Menurut Kepala Negara, laju investasi menjadi penting pada tengah pandemi COVID-19 saat tersebut. Mengingat hal itu dapat menjadi daya dorong di tengah lesunya pertumbuhan konsumsi domestik.

Kejar target

BKPM sebagai lembaga yang mengurusi masuknya investasi di Negara, tidak tinggal diam. Meski bahan realisasi investasi dipangkas, strategi buat terus menggenjot aliran modal mengakar tidak mengendur.

Salah satu langkah yang dilakukan untuk lestari menggenjot realisasi investasi di pusat pandemi yakni merampungkan investasi mangkrak yang selama beberapa tahun final tak kunjung selesai.

Sejak diangkat memimpin BKPM di dalam 2019, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengaku menemukan ada Rp708 triliun investasi yang tidak kunjung terealisasi meski sudah resmi masuk ke Tanah Air.

Ratusan triliun investasi itu tidak kunjung terealisasi karena tiga masalah utama, yakni ego sektoral kementerian/lembaga, adanya tumpang tindih aturan antara negeri pusat, provinsi, kabupaten/kota hingga perkara tanah yang mahal.

Sepanjang 2020, tepatnya hingga November, akhirnya BKPM berhasil mengeksekusi Rp474, 9 triliun atau 67, satu persen dari total investasi mangkrak.

Selain mengejar penyelesaian investasi mangkrak, strategi lain yaitu mendorong masuknya relokasi investasi sebab sejumlah negara ke Indonesia.

Untuk menggaet relokasi investasi, pemerintah menyiapkan lahan di Baur, Jawa Tengah, termasuk juga melakukan reformasi perizinan melalui pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja.

Pada Juli 2020, sudah ada satu perusahaan asal Taiwan PT Meiloon Technology Indonesia, dengan telah melakukan peletakan batu mula-mula (groundbreaking) pabrik di Subang, Jawa Barat. Meiloon merelokasi investasinya lantaran Suzhou, China, ke Indonesia, senilai total 90 juta dolar AS.

Di sisi asing, ada 13 perusahaan lain yang memastikan diri akan merelokasi investasi senilai 6, 9 miliar dolar AS dengan potensi penyerapan tenaga kerja hingga 65 ribu karakter.

Sebanyak 15 kongsi telah menyatakan komitmen investasi senilai 21, 5 miliar dolar AS dengan estimasi penyerapan tenaga kerja hingga 61 ribu orang. Selain itu, ada 124 perusahaan potensial yang akan merelokasi industrinya ke Indonesia dengan total investasi 41, 4 miliar dolar AS dan potensi penyerapan tenaga kerja had 162 ribu orang

Tidak sekadar menyelesaikan investasi mangkrak dan menggaet relokasi investasi, pemerintah juga terus berupaya mendorong masuknya investasi di sektor prioritas yang diharapkan bisa mendukung pemulihan ekonomi di tengah pandemi.

Sejumlah sektor prioritas yang dimaksud yakni kesehatan, hilirisasi mineral & manufaktur. Selain untuk mendukung kemandirian di dalam negeri, investasi di sektor-sektor tersebut diyakini bisa mendukung penciptaan lapangan kerja di masa pandemi.

Tetap optimis

Jika dilihat secara rinci, realisasi investasi triwulan I 2020 mencapai 210, tujuh triliun karena belum secara langsung terdampak pandemi COVID-19 meski serbuan virus sudah mewabah di banyak belahan dunia.

Kemudian pada triwulan II, dampak pandemi mulai sangat terasa di di dalam negeri sehingga realisasi investasi turun 8, 9 persen dari triwulan sebelumnya dengan perolehan Rp191, 9 triliun.

Memasuki triwulan III, kondisi mulai berangsur pulih dengan capaian realisasi investasi sejumlah Rp 209, 0 triliun ataupun tumbuh 8, 9 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

Kendati naik turun, secara kumulatif, realisasi investasi Januari-September 2020 mencapai Rp611, 6 triliun atau 74, 8 persen dari target realisasi investasi 2020 sebesar Rp817, 2 triliun.

Bahlil Lahadalia optimis target realisasi investasi tahun 2020 sebesar Rp817, 2 triliun akan tercapai meski target tersebut disebut-sebut terlampau optimistis. Ia memastikan target yang telah direvisi dari sebelumnya Rp886, 1 triliun itu sudah melewati perhitungan matang.

“Saya ingin katakan, BKPM membuat target optimistis itu bukan bim salabim tapi selalu disertai analisa, kajian data dan melihat peta kondisi yang ada. Jadi Insya Allah, kami tidak bermaksud over confidence , akan tetapi di akhir 2020 nanti, Insya Allah Rp817 triliun ini bisa tercapai, ” katanya.

Hal yang serupa juga diungkapkan Gajah Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Ia mengisbatkan belum ada investor yang menghapuskan rencana investasi di Indonesia karena merebaknya Covid-19.

Sekalipun diakuinya arus investasi sedikit terganggu akibat pandemi, sejumlah investor masih tetap melanjutkan komitmennya untuk menyelundup ke Indonesia.

Menjumpai akhir tahun, sejumlah menteri serupa terus aktif menjaring investasi sebab berbagai sumber. Pemerintah pun rajin mempromosikan UU Omnibus Law Cipta Kerja yang diklaim akan melecehkan para investor menanamkan modalnya di Indonesia.

Meski terus kejar-kejaran dengan waktu untuk mampu meraih target realisasi investasi di tengah masa pandemi yang sulit ini, komitmen investasi yang didapat diharapkan dapat jadi modal untuk bisa direalisasikan di waktu mendatang guna mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Mengaji juga: Realisasi investasi minim, Upah VI DPR akan panggil BKPM
Baca juga: BKPM bersambung Polri permudah perizinan dan jamin keamanan investasi

 

Oleh Ade irma Junida
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020