Bawa TKDN, Kemenperin dukung sertifikasi produk farmasi

Bawa TKDN, Kemenperin dukung sertifikasi produk farmasi

saat ini ada 10. 000 produk farmasi yang perlu disertifikasi Tingkat Komponen Di Negeri (TKDN)

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Perindustrian siap menunjang pelaku industri farmasi dan instrumen kesehatan memiliki sertifikat untuk penambahan penggunaan produk lokal dari dua sektor strategis tersebut sehinga  membakar kemandirian industri nasional dan memburu-buru daya saingnya di kancah global.

“Sertifikasi ini sangat penting. Sebab, saat ini ada 10. 000 produk farmasi yang menetapkan disertifikasi Tingkat Komponen Dalam Jati (TKDN), ” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita lewat bahan resmi di Jakarta, Sabtu.

Menperin mengusulkan, biaya sertifikasi TKDN produk tersebut sebaiknya memakai anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

“Dengan anggaran yang disiapkan, kami tentunya akan support sektor industrinya. Apalagi, pabrik farmasi dan alat kesehatan sudah kami masukkan ke dalam sektor tambahan yang menjadi prioritas dalam peta jalan Making Indonesia 4. 0, ” paparnya.

Langkah itu sebagai wujud nyata Kemenperin untuk segera mewujudkan Nusantara bisa mandiri di sektor kesehatan.

“Kemandirian Indonesia pada sektor industri alat kesehatan serta farmasi merupakan hal yang istimewa, terlebih dalam kondisi kedaruratan kesehatan tubuh seperti saat ini, ” imbuhnya.

Sektor industri farmasi dan alat kesehatan masuk di dalam kategori yang mengalami permintaan agung (high demand) ketika pandemi Covid-19, di saat sektor lain mengalami dampak yang berat. Kemenperin menyimpan, pada triwulan I tahun 2020, industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh positif sebesar 5, 59 persen.

Baca juga: Luhut tekankan pentingnya sertifikasi produk farmasi dorong TKDN

Di samping itu, industri kimia dan farmasi juga menjadi sektor manufaktur yang menyetor nilai investasi cukup signifikan pada kuartal I-2020, dengan mencapai Rp9, 83 triliun.

Sehingga, industri alat kesehatan dan farmasi perlu didorong untuk dapat memenuhi kebutuhan di dalam negeri secara mandiri. Kemandirian pada sektor industri alat kesehatan serta farmasi diharapkan berkontribusi dalam agenda pengurangan angka impor impor mematok 35 persen pada akhir tahun 2022.

“Inovasi dan penerapan industri 4. 0 dalam sektor industri alat kesehatan & farmasi dapat meningkatkan produktivitas, ” ujar Agus.

Menurutnya, pasar dalam negeri sangat potensial bagi berbagai produk farmasi serta alat kesehatan dengan kandungan lokal tinggi. Sebab, pasar lokal mampu menjadi preferensi dalam pengadaan melalui program jaminan kesehatan nasional (JKN).

Mengaji juga: Kemenperin terbitkan aturan hitungan TKDN produk farmasi
 

Pada Permenperin 16 tahun 2020, disebutkan bahwa tata cara penghitungan ukuran TKDN produk farmasi tidak teristimewa memakai metode cost based, mengecualikan metode processed based.

Melalui processed based, berarti ada penghargaan atas upaya riset dan pengembangan oleh pelaku industri. Tata cara ini dapat mempertahankan kerahasiaan formulasi yang dimiliki perusahaan tanpa membelakangi kaidah dan tujuan yang ingin dicapai dari pemberlakuan TKDN keluaran tersebut.

“Pertimbangannya, metode ini lebih sesuai diterapkan dalam sektor yang sifat industrinya istimewa. Formulasinya juga sangat banyak & beragam. Selain itu, sektor itu selalu mengacu pada hasil riset dan pengembangan yang panjang. Pula, menelan biaya besar, ” katanya.

Menyuarakan juga: Industri farmasi ingin TKDN obat segera direalisasikan

Baca juga: Kemenperin bidik rata-rata kandungan lokal pabrik capai 40 persen

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020